Skripsi
ANALISIS KESESUAIAN IKLIM TANAMAN SORGUM SERTA POLA DAN JADWAL TANAM BERDASARKAN ANALISIS NERACA AIR LAHAN KLIMATOLOGIS, EL NINO 2015, DAN LA NINA 2010 DI KABUPATEN LAMONGAN PROVINSI JAWA TIMUR
Kabupaten Lamongan merupakan salah satu sentra produksi sorgum yang terus dikembangkan produktivitas sorgum Kecamatan Babat mencapai 4230.8 ton dengan luas tanaman sorgum sekitar 634 ha, peningkatan luas lahan pertanian sorgum serta menejemen pertanian yang baik agar dapat memaksimalkan produktivitas sorgum di Kabupaten Lamongan. Informasi Kesesuain iklim untuk tanaman sorgum serta informasi pola dan jadwal tanam sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas sorgum dan mengurangi resiko gagal panen khususnya curah hujan dan suhu udara. Fenomena El Nino dan La Nina merupakan fenomena global yang mempengaruhi kondisi curah hujan di Indonesia. Pengaruh El Nino terhadap curah hujan musiman di Indonesia berlangsung saat pertengahan tahun yakni PMK dan AMH. Secara umum La Nina tidak memberikan pengaruh nyata terhadap curah hujan AMK, PMK, AMH dan PMH di Indonesia (Sitompul dkk., 2013). Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian tentang pola dan jadwal tanam sorgum pada periode nrmal serta perubahanya ketika terjadi El Nino dan La Nina.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rata-rata curah hujan, suhu udara tahun 1990-2016, El Nino 2015, La Nina 2010, serta dua parameter fisik tanah yaitu tekstur tanah yang digunakan untuk perhitungan Kelas Kesesuaian. Metode yang digunakan adalah perhitungan neraca air lahan Thornthwaite-Mather pada setiap pos hujan perwakilan yang dipilih di Kabupaten Lamongan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh wilayah Kabupaten Lamongan umumnya memiliki kelas S1 (Sangat Sesuai) dan S2 (Sesuai). Fenomena El Nino 2015 dan La Nina 2010 menyebabkan perubahan pola dan jadwal tanam dari kondisi normalnya. Ketika El Nino, pola tanam untuk sebagian besar wilayah umumnya berubah menjadi 1 kali tanam dan terjadi pergeseran jadwal tanam yang awalnya dimulai pada Bulan Desember bergeser menjadi bulan Januari. Ketika La Nina untuk bebagian besar wilayah pola tanam berubah menjadi 3 kali tanam dan terjadi pergeseran jadwal tanam dengan mayoritas awal musim tanam dimulai pada Bulan Oktober.
| 201953020.1 | K 020 MAU a | My Library (Rak Skripsi) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain