Tugas Akhir
Analisis Suhu Udara Permukaan Pada Saat Terjadinya Puting Beliung Di Jakarta
ABSTRAK
Fenomena puting beliung bisa dikatakan cukup sering terjadi di
wilayah Indonesia. Hal ini dapat diketahui dari laporan media online dalam 4
bulan terakhir sejak bulan Oktober 2009 sampai Januari 2010 sudah ada 24
kejadian puting beliung. Fenomena cuaca ini bersifat merusak dan dapat
menberikan dampak kerugian baik materil maupun immaterial bagi daerah
yang mengalami fenomena ini. Bila di tinjau dari aspek paremeter cuaca,
fenomena ini menarik untuk dipelajari keterkaitan nya dengan paremeter
cuaca tersebut. Dalam hal ini suhu udara permukaan.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai analisis suhu udara
permukaan pada saat terjadinya puting beliung di wilayah Jakarta pada tanggal
15 Maret 2009, 31 Maret 2009 dan 21 April 2009 dengan menggunakan
metode grafik dan metode korelasi untuk mengetahui korelasi antara suhu
udara permukaan dan suhu puncak awan yang di peroleh dari data satelit dan
dibantu dengan perangkat lunak SATAID untuk mengetahui suhu puncak
awan.
Hasil dari analisis data tersebut diperoleh pola suhu udara permukaan
yaitu suhu udara permukaan di pagi hari pada saat terjadi puting beliung sudah
cukup panas yaitu mencapai > 26 0C, dan selalu mengalami kenaikan dari pagi
hingga siang hari dengan gradien kenaikan yang cukup besar yaitu mencapai
nilai 0.8 – 2.6 0C. Pada umumnya suhu udara permukaan dan suhu puncak
awan mempunyai korelasi yang cukup baik. Maka suhu puncak awan bisa
digunakan untuk melihat gambaran pola suhu udara di permukaan bila
kondisinya turun dari pagi hingga siang hari.
| 20101113.1 | HER a 551.5 | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain